Healthy Guides
| Probiotik dan Konstipasi |
|
Konstipasi merupakan salah satu masalah pencernaan yang paling sering dikeluhkan oleh pasien. American College of Gastroenterology (ACG) memperkirakan sekitar 4,5 juta orang diAmerika mengalami konstipasi kronik dan lebih dari 45 juta orang pernah mengalami konstipasi. Konstipasi merupakan keadaan yang ditandai oleh gerakan usus yang jarang di mana gerakan usus tersebut menyebabkan nyeri dan kesulitan buang air besar disertai rasa penuh yang tidak nyaman. Keadaan ini sering terjadi pada perempuan, anak-anak, dan kaum lanjut usia di atas 65 tahun. Konstipasi paling sering disebabkan oleh rendahnya asupan serat. Dengan demikian, cara terbaik mengatasi konstipasi adalah memperbanyak serat dalam makanan. Serat akan menambah massa dan air pada kotoran sehingga lebih cepat dan mudah dikeluarkan. Konstipasi dapat pula disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik. Pada pasien yang menjalani bedrest total, pola buang air besar kemungkinan besar akan terganggu. Dengan demikian, menjaga tubuh tetap aktif merupakan salah satu cara menghindari konstipasi. Kurangnya asupan cairan dan dehidrasi dapat pula menjadi penyebab. Bagi sebagian orang, mengonsumsi laksan dapat mengatasi masalah konstipasi. Namun, penggunaan laksan rutin tidak dianjurkan karena justru dapat mengubah pola gerakan usus dan berujung pada konstipasi yang semakin berat. Probiotik yang merupakan bakteri baik dapat membantu mengatasi konstipasi. Ia berperan menjaga keseimbangan flora normal yang tinggal dalam usus. Dengan flora usus normal, saluran pencernaan akan bekerja lebih baik dalam mencerna makanan. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui peran probiotik terhadap konstipasi. Hasilnya, probiotik dapat membantu mengurangi konstipasi pada irritable bowel syndrome. Bifidobacterium animalis juga sudah terbukti dapat mengurangi waktu transit makanan di usus sehingga pola buang air besar menjadi lebih lancar. Referensi: |
blog comments powered by Disqus
Merck Indonesia . Merck Consumer Health Care




