Healthy Guides
| Pengaruh Defisiensi Besi pada Tumbuh Kembang Anak |
|
Defisiensi besi merupakan kelainan darah yang paling sering terjadi pada masa kanak-kanak. Walaupun kerap terjadi tanpa gejala, ternyata defisiensi besi dapat menimbulkan dampak buruk pada tumbuh kembang si kecil. Tidak hanya pertumbuhan badan yang terganggu, namun juga perkembangan kognitif atau kecerdasan si kecil dapat terganggu. Bayi usia 9 sampai 24 bulan dapat mengalami defisiensi besi karena simpanan besi pada sumsum tulang berkurang drastis akibat pertumbuhan yang sangat cepat. Selain kelompok usia ini, remaja putri pun rentan terkena defisiensi besi karena kadang asupan makanan tidak dapat mencukupi kebutuhan besi yang tinggi akibat pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Defisiensi besi merupakan keadaan yang dapat memengaruhi fungsi semua sel pada seluruh tubuh. Ia tidak saja dapat menyebabkan anemia, tapi juga menurunkan kapasitas aktivitas tubuh dan mengakibatkan perubahan selaput lendir pada usus halus. Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan jika defisiensi besi terjadi pada masa kanak-kanak adalah perubahan perilaku dan penurunan kecerdasan. Banyak penelitian telah berhasil menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah. Namun ternyata keadaan defisiensi besi yang belum menimbulkan gejala dan tanda anemia pun ternyata sudah menurunkan kemampuan kognitif anak. Penelitian skala besar oleh National Health and Nutrition Examination Survey III yang dilkukan pada 5.398 anak menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki nilai rata-rata matematika yang lebih rendah dibandingkan normal. Yang lebih mengejutkan dari hasil penelitian ini adalah bahwa nilai rata-rata anak dengan defisiensi besi juga lebih rendah. Anak dengan anemia defisiensi besi memiliki risiko 2,3 kali lipat mendapatkan nilai matematika di bawah rata-rata, sedangkan anak dengan defisiensi besi memiliki risiko yang tidak jauh berbeda yaitu 2,4. Walaupun kemampuan kognitif anak tidak hanya dinilai dari kemampuan matematika, namun penelitian ini membuka wawasan bahwa keadaan defisiensi besi harus lebih agresif dicegah karena dapat menimbulkan dampak pada kecerdasan anak. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memerangi defisiensi besi pada anak, antara lain pembagian makanan bergizi, fortifikasi makanan dengan besi, suplementasi besi, dan juga mengatasi infeksi cacing. Dengan fortifikasi besi pada makanan, angka kejadian defisiensi besi di Amerika jauh berkurang. Namun penelitian menunjukkan bahwa 4% bayi usia 6 bulan dan 12% bayi usia 12 bulan masih mengalami defisiensi besi. Pada kelompok usia 1-3 tahun, defisiensi terjadi pada 6,6% sampai 15,2% tergantung pada etnis dan status sosioekonomi. Untuk alasan inilah, pada bulan Oktober 2010, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan panduan terbaru untuk lebih menekan angka kejadian defisiensi besi dan mencegah komplikasinya.
Referensi:
|
blog comments powered by Disqus
Merck Indonesia . Merck Consumer Health Care




