Home > Sangobion Healthy Guides > Anemia dan Nutrisi: Pentingnya Zat Besi
Anemia dan Nutrisi: Pentingnya Zat Besi

Besi memiliki fungsi yang vital dalam tubuh. Zat ini berperan sebagai pembawa oksigen ke jaringan dari paru dalam bentuk hemoglobin, sebagai medium transport elektron dalam sel, dan sebagai bagian dari sistem enzim di berbagai jaringan. Sebagian besar besi dalam tubuh berada dalam sel darah merah dalam bentuk hemoglobin.

Besi tidak secara aktif dikeluarkan oleh tubuh melalui urin atau saluran pencernaan. Besi keluar dari tubuh jika terdapat sel yang luruh pada kulit dan permukaan tubuh bagian dalam seperti saluran cerna, saluran kencing, dan saluran nafas. Jumlah yang hilang dari tubuh diperkirakan sekitar 14 g/kg/hari. Sebagai ilustrasi, seorang perempuan 55 kg yang tidak menstruasi kehilangan sekitar 0,8 mg besi/hari sedangkan laki-laki 70 kg kehilangan sekitar 1 mg/hari.

Bayi baru lahir yang cukup bulan memiliki besi sekitar 250-300 mg dalam tubuhnya atau setara dengan 75 mg/kg). Selama 2 bulan pertama kehidupannya, kadar hemoglobin bayi berkurang karena perbedaan metabolisme oksigen antara bayi dengan janin. Sel darah merah yang hancur akan mengeluarkan besi sehingga besi inilah yang menjadi cadangan bagi bayi dalam memenuhi kebutuhannya selam 4-6 bulan pertama kehidupan, di mana ia hanya mendapatkan ASI yang mengandung sangat sedikit besi. Alasan ini pulalah yang menyebabkan perlunya suplementasi besi pada bayi di bawah 6 bulan.

Setelah usia 4-6 bulan, kebutuhan besi meningkat drastis menjadi 0,7-0,9 mg/hari. Hal ini berlangsung terus sampai usia 1 tahun. Kebutuhan yang tinggi ini berkaitan dengan pertumbuhan ukuran tubuh yang cepat.

Setelah usia 1 tahun, bayi memiliki cadangan besi total 2 kali lipat dibanding saat lahir. Antara usia 1-6 tahun, jumlah ini meningkat 2 kali lipat. Kebutuhan besi yang tinggi selama usia ini diakibatkan oleh kebutuhan energi yang tinggi.

Kebutuhan besi meningkat lagi pada saat usia remaja, di mana terjadi periode pertumbuhan yang cepat. Remaja putri biasanya mengalami lonjakan pertumbuhan sebelum menstruasi, sehingga kebutuhan besi sudah meningkat sebelum menstruasi. Pada remaja putra yang mengalami pubertas, terjadi peningkatan produksi hemoblobin sehingga kebutuhan besinya dapat melebihi kebutuhan perempuan yang dalam periode menstruasi.

Perempuan usia subur memiliki kebutuhan besi yang relatif turun dibandingkan remaja putri. Ini diakibatkan oleh sudah berhentinya aktivitas pertumbuhan. Namun perempuan dalam masa ini akan kehilangan besi setiap bulannya pada periode menstruasi. Jumlah besi yang keluar setiap bulan relatif konstan pada satu perempuan, namun dapat terjadi variasi yang sangat besar antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Ini berkaitan dengan aktivator fibrinolitik pada mukosa rahim yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Selama menstruasi dengan durasi normal dan siklus 28 hari, seorang perempuan kehilangan 0,56 mg besi/hari. Penggunaan alat kontrasepsi pun dapat mempengaruhi jumlah darah selama menstruasi.

Perempuan pascamenopause dan kaum usia lanjut yang aktif memiliki kebutuhan besi per kilogram berat badan yang sama dengan laki-laki. Ketifa aktivitas fisik menurun karena penuaan, volume darah berkurang dan hemoglobin pun berkurang, maka terjadi perpindahan besi dari hemoglobin dan otot ke cadangan besi. Hal ini berdampak pada turunnya kebutuhan besi harian. Jika pada usia lanjut terjadi defisiensi besi, biasanya bukan akibat nutrisi, melainkan akibat penyakit.


Referensi:

  1. World Health Organization and Food and Agriculture Organization of the United Nations. Vitamin and Mineral Requirements in Human Nutrition. 2nd ed. 2004.
  2. Kraemer K, Zimmerman MB. Nutritional anemia. Sight and Life, 2007.

blog comments powered by Disqus
 
Email Print
Banner

Banner

Banner
Follow Us on
Share |