Home > Update News > Memerangi Anemia, Menggapai Etos Kerja
Memerangi Anemia, Menggapai Etos Kerja

Mobil Sehat SangobionMasalah anemia di Indonesia, sudah menjadi masalah serius, masalah nasional. Mengingat, prevalensi anemia di tanah air ini, grafiknya masih sangat tinggi. Apalagi terjadi pada semua golongan usia. Apa jadinya jika balita, anak-anak, remaja, usia pekerja yang produktif hingga orang lanjut usia mengalami anemia, akibat dari kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah dalam tubuh kurang dari normal. Di Republik ini, umumnya terjadi lantaran tubuh kekurangan zat besi atau Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Dampak ADB sangat luar biasa. Kualitas hidup manusia jadi menurun, anjlok, merosot. Bagi balita dan anak, anemia menyebabkan gangguan pada perkembangannya seperti terganggunya fungsi kognitif maupun perkembangan psikomotor, menurunkan potensi pertumbuhan anak dan penurunan daya tahan terhadap infeksi. Lebih dari itu, dapat menimbulkan masalah produktivitas generasi bangsa yang lebih besar di masa mendatang

Bagi remaja hingga orang dewasa, yang merupakan usia produktif, anemia menyebabkan produktivitas kerja rendah, etos kerjanya berkurang karena terbelenggu oleh kondisi badan yang lemah, letih, lesu, lemah dan lunglai (5L), yang merupakan salah satu gejala anemia yang paling
mudah dikenali. Gejala lainnya muka pucat, sulit berkosentrasi, sering merasa pusing, berkunang-kunang.

Tak bisa dipungkuri, rendahnya etos dan produktivitas kerja menjadi batu sandungan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju, agar tidak tertinggal dengan bangsa lainnya. Data United Nation Development Program (UNDP) tahun 2009, mencatat indeks pembangunan manusia (human development index) Indonesia, masih berada di posisi 111 dari 182 negara. Posisi itu menunjukkan Indonesia sangat tertinggal jauh, jika dibandingkan Singapura diposisi 23, Brunei Darussalam urutan 30, Malaysia dirangking 66, Thailand berada dikedudukan 87.

Human Development Index itu, mencakup kualitas dari pendidikan, kesehatan, angka melek huruf, juga perekonomian. Rendahnya angka HDI Indonesia menandakan masih rendahnya tingkat kualitas dan produktivitas sumber daya manusia (SDM) dibandingkan dengan negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Keinginan mengejar ketertinggalan menjadi harapan, impian, cita-cita bersama. Namun langkah mengejarnya, harus diawali dengan kondisi tubuh yang sehat serta tidak menjadi bangsa yang 5L. Dan ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama, sekaligus bersama memerangi 5 L untuk menggapai serta meningkatkan etos, produktivitas kerja juga mendongkrak peringkat HDI Indonesia. Mungkinkah?

Memang untuk menggapai harapan tak sekedar membalikan tangan. Berbagai masalah masih menghantui, terutama tentang kesehatan berkaitan dengan 5 L. Mengingat. bersadarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Indonesia 1995, prevalensi ADB pada populasi Indonesia sekitar 40 hingga 58% (SKRT1995, NHS-HKI 2001).

Juga data SKRT tahun 2001, prevalensi ADB di Indonesia tertinggi pada anak umur 1-2 tahun, mencapai 61,4%, sedangkan pada balita atau anak usia 0-5 tahun angkanya 47%. Usia sekolah dan remaja (15-19 tahun) angka prevalensinya 26,5%, wanita usia subur baik yang menikah maupun tidak 51,4% dan wanita hamil 40%.

Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2007, di 440 kota/kabupaten di 33 provinsi di Indonesia oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes menjabarkan prevalensi anemia di perkotaan mencapai 14,8%. Dari 33 provinsi, ternyata 20 provinsi memiliki angka prevalensi anemia lebih besar. Lebih mengejutkan lagi, DKI Jakarta, salah satu provinsi yang angkanya 21,1%.

Prevalensi anemia di perkotaan, menurut Riskesdas paling tinggi terjadi pada kelompok anak usia balita yaitu 27,7%, diikuti kelompok usia lanjut (75 tahun keatas) 17,7%. Padahal, WHO Guidelines menyebutkan bila prevalensi anemia dalam suatu populasi lebih dari 15%, hal itu sudah merupakan masalah kesehatan nasional. Menyedihkan memang, jika melihat UNDP terkait HDI serta data SKRT dan Riskesdas dengan ketentuan WHO.

"Tak ada jalan lain harus memerangi anemia sejak dini demi masa depan. Menentukan masa depan sebagai bangsa yang kuat, sehat dan tidak lemah, letih, lesu, lemah dan lunglai, ya harus ditentukan saat ini. Mengingat, dampak anemia menyebabkan kualitas hidup menurun, juga menurunkan produktifitas masyarakat usia kerja dan memperburuk kesehatan ibu hamil dan bayi," ungkap pakar kesehatan anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Soedjatmiko, saat sosialisasi gerakan anti 5 L.

Juga, sambung dokter yang pintar sulap, pada bayi dan anak-anak, anemia dapat menimbulkan masalah produktifitas bangsa yang lebih besar di masa depan. Untuk menanggulanginya, asupan nutrisi terutama zat besi sangat dibutuhkan dengan kadar seimbang. Sejatinya asupan nutrisi ini diberikan sejak dini. Mengingat, sel otak manusia berkembang cepat saat usia 0-2 tahun.

"Zat besi adalah unsur penting dalam perkembangan sel otak. Karenanya, jika anak-anak kekurangan zat besi akan mempengaruhi kecerdasannya yang rendah, prestasi di sekolah tak memuaskan, ketrampilan pemecahan masalah kurang serta gangguan perilakunya, seperti hiperaktif, sulit mengendalikan diri, gangguan pengendalian emosi, ” jelasnya.

Sedangkan bagi usia produktif atau dewasa yang kekurangan anemia, sering merasa pusing-pusing, mata berkunang-kunang, ngantuk, lesu, kosentrasi menurun, prestasi pikir telat atau telmi, kekuatan fisiknya anjlok, prestasi kerja merosot, nadi cepat tinggi, pembesaran jantung, serng mual, sembelit, perut kembung dan wajah nampak pucat, sambung Soedjatmiko.

Dr. Pauline Tjahjahdi, Scientitif Manager Medical Departement PT. Merck Tbk mengemukakan pencegahan mulai dini terhadap anemia defisiensi besi harus dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti hati hati, jantung, kuning telur, kerang, tiram, kacang-kacangan, daging sapi.

Juga, sambung Pauline, meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh dengan mengkombinasikan makanan berzat besi yang mengandung vitamin C, karena vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Serta menyiasati makanan yang mengandung fitat dan kalsium dengan memberikan jarak waktu 1-2 jam, dengan mengkonsumsi makanan berzat besi atau suplemen zat besi. Mengingat, fitat dan kalsium dapat mengurangi penyerapan zat besi dalam tubuh.

"Dan paling penting olahraga teratur, tidur cukup 6-8 jam perhari, mengkonumsi suplemen zat besi yakni Sangobion dengan kombinasi vitamin C," sarannya.

Mengingat, masalah anemia masih menjadi masalah serius, dan perlu penanganan serius, karenanya perusahaan farmasi dan kimia asal Jerman, PT Merck Tbk meluncurkan program edukasi pencegahan anemia yang dinamai "Sangobion Gerakan Anti 5L" (Lemah, Letih, Lesu, Lelah, dan Lunglai).

Peluncuran program tersebut merupakan kelanjutan program edukasi melawan anemia yang telah dilakukan Sangobion secara konsisten. Realisasi program ‘Gerakan Anti 5L’ ini direncanakan tersebar di 140 titik 13 kota di seluruh Indonesia antara lain Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lainnya.

Sangobion Gerakan anti 5L ini akan menyediakan layanan edukasi cuma-cuma kepada masyarakat seputar permasalahan anemia melalui
pemeriksaan kesehatan, konsultasi seputar nutrisi, tes Hb darah, juga penyelenggaraan seminar kesehatan di Puskesmas dan Posyandu. Semuanya difasilitasi dengan sarana ‘Mobil Sehat Sangobion’.

“PT Merck Tbk melalui produk Sangobion telah melakukan berbagai upaya untuk memerangi anemia sejak 1975. Melalui program Sangobion Gerakan Anti 5L, kami ingin meningkatkan usaha kami dalam mengedukasi masyarakat,” kata Direktur Consumer Health Care Merck, Nils Moen.

Edukasi termasuk menyediakan Mobil Sehat Sangobion, PT Merck akan mendatangi kota-kota atau daerah-daerah sasaran program tersebut, selain masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan menceritakan pengalaman hidup sehat semangat tanpa anemia, tambah Moen.

Brand Manager Sangobion Yuliana Biantoro, menambahkan, gerakan ini akan memberikan pemahaman menyeluruh mulai dari gejala, bahaya, dan cara penanggulangan anemia. Kampanye yang memiliki tujuan jangka panjang membebaskan Indonesia dari anemia ini juga didukung artis Sarah Sechan sebagai Duta Anti Anemia Sangobion.

"Tujuan kami untuk jangka panjang, untuk membebaskan Indonesia dari anemia, untuk meningkatkan etos dan produktivitas kerja masyarakat Indonesia agar bertambah maju, bersemangat dan tanpa mengenal lelah dalam membangun negeri ini," tambahnya dengan penuh semangat.

Sumber: kabarbisnis.com


blog comments powered by Disqus
 
Email Print
Banner

Banner

Banner
Follow Us on
Share |