Home > Update News > Yuk, Lawan Anemia dengan Gerakan Anti 5L
Yuk, Lawan Anemia dengan Gerakan Anti 5L

JAKARTA  - Apa yang dirasakan para suami ketika istri atau anak mendadak sakit? Benar, timbul rasa cemas, khawatir, bahkan panik. Selain risi akan keselamatan orang-orang yang kita cintai, urusan rumah akan terganggu saat istri sakit, terlebih tanpa pembantu rumah tangga.

Pekerjaan yang rutin dilakoni istri, dari mengurus anak, memasak, hingga mencuci pakaian terpkasa harus dikerjakan oleh suami seorang diri. Situasi seperti ini pernah menghampiri semua keluarga. Beberapa bulan yang lalu, saya pun mengalaminya.

Saat pulang kantor sekira pukul 19.45 WIB, saya sedikit heran dengan kondisi rumah yang berbeda dari biasanya. Tampak berantakan. Di ruang tengah, masih berserakan dengan mainan anak yang belum disimpan ke tempat semula. Begitu juga di dapur, gelas, sendok, dan piring, serta lainnya, masih menumpuk belum tercuci.

Pun ketika menengok meja makan, hanya tersisa nasi dingin dan sedikit lauk-pauk. “Ibu...ibu...ibu, ayah pulang,” ucap saya memanggil-manggil istri. Untuk beberapa saat tak ada sahutan. Rasa heran yang bergelayut membawa saya langsung menuju kamar yang pintunya tertutup rapat.

Setelah pintu kamar terbuka, terlihat istri tengah berbaring, sedangkan anak kami yang semata wayang tertidur pulas di sebelahnya. “Kenapa bu?” tanya saya sambil memerhatikan tubuh istri yang dari gelagatnya belum tidur. “Ayah, badan ibu sakit, kepala pusing,” jawab istri lirih dengan muka terlihat agak pucat.

Memang beberapa hari sebelumnya, istri mengeluh pusing kalau jalan setelah duduk lama, keluar keringat dingin, gampang lelah, dan tidak bersemangat beraktivitas. Usut-punya usut, setelah “diinterogasi” ia bilang beberapa bulan ini siklus menstruasinya tidak teratur. Darah haid yang keluar katanya cukup banyak dan terus-menerus.

Keesokan harinya, saya langsung memeriksakan istri ke dokter karena khawatir terjadi apa-apa. Saat itu, saya mengira istri mengidap tekanan darah rendah atau anemia, berhubung keluhannya seperti itu. Dan benar saja dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan tekanan darahnya hanya 70/60, sedangkan normalnya 120/80.

Hasil diagnosa dokter, istri mengalami anemia gara-gara "datang bulannya" tidak lancar akibat penggunaan kontrasepsi suntikan KB yang tidak cocok. Kemudian dokter menyarankan agar menganti alat KB suntikan dengan pil antihamil khusus ibu menyusui. Selain itu, dokter juga memberikan resep obat yang di antaranya vitamin penambah darah. Sebulan kemudian, gejala anemia yang diderita istri saya, sembuh.

Kisah di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa penyakit anemia tidak bisa dianggap enteng dan siapa saja dapat mengalaminya. Selain mengganggu aktivitas, ternyata dampak anemia sangat berbahaya bila dibiarkan begitu saja. Lelah, letih, lesu, lemah, dan lunglai atau yang dikenal dengan istilah 5L terkadang muncul dengan tiba-tiba. Terlebih jika kondisi tubuh tidak fit atau sedang drop, tentunya cukup merepotkan aktivitas sehari-hari.

Persoalan 5 L ini ternyata tidak sekadar keluhan bagi penderitanya, namun menyangkut masa depan produktivitas bangsa. Sebab, prevalensi anemia di Indonesia terbilang sangat tinggi dan terjadi pada semua golongan usia. Umumnya terjadi karena tubuh kekurangan zat besi, atau biasa disebut dengan Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Indonesia 1995, prevalensi ADB pada populasi Indonesia sekitar 40 hingga 58 persen. Menurut data SKRT tahun 2001, prevalensi ADB di Indonesia tertinggi pada anak umur 1-2 tahun yang mencapai 61,4 persen, sedangkan pada anak usia 0-5 tahun angkanya 47 persen.

Pada usia sekolah dan remaja (15-19 tahun) angka prevalensinya 26,5 persen, wanita usia subur baik yang menikah maupun tidak 51,4 persen, dan pada wanita hamil 40 persen. Sementara laporan hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) tahun 2007 di 440 kota/kabupaten di 33 provinsi di Indonesia oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes disebutkan secara nasional prevalensi anemia di perkotaan mencapai 14,8 persen.

Dari 33 provinsi di Indonesia, ternyata 20 provinsi memiliki angka prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional. Dari data ini yang mengejutkan adalah DKI Jakarta merupakan salah satu dari provinsi tersebut dengan angka 21,1 persen. Prevalensi anemia di perkotaan menurut Riskesdas paling tinggi terjadi pada kelompok anak usia balita yaitu 27,7 persen, diikuti kelompok usia lanjut 17,7 persen.

Pakar kesehatan anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Soedjatmiko mengatakan, anemia menyebabkan kualitas hidup menurun. Pada bayi dan anak-anak, anemia menyebabkan gangguan perkembangan anak, misalnya, terganggunya fungsi kognitif maupun perkembangan psikomotor, pertumbuhan, dan penurunan daya tahan terhadap infeksi.

Menurut Soedjatmiko, anemia mengakibatkan kualitas hidup menurun. Pada orang dewasa menyebabkan produktivitas kerja menurun, sedangkan pada bayi dan anak, anemia dapat menimbulkan masalah produktivitas bangsa yang lebih besar di masa yang akan datang.

Tingginya prevalensi anemia di Indonesia melatarbelakangi PT Merck Tbk, meluncurkan program
edukasi pencegahan anemia yang dinamai “Sangobion Gerakan Anti 5L (lemah, letih, lesu, lelah, dan lunglai) yang diluncurkan di Jakarta, akhir Mei lalu.

Menurut Brand Manager Sangobion Yuliana Biantoro, peluncuran program ini sebagai kelanjutan dari program edukasi melawan anemia yang telah dilakukan Sangobion secara konsisten. Gerakan ini akan menyasar seluruh lapisan masyarakat di 140 titik di 13 kota di Indonesia.

Yulian menjelaskan, daerah-daerah sasaran program antara lain Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, dan kota-kota lain di Indonesia. “Sangobion Gerakan Anti 5L memberikan layanan edukasi cuma-cuma untuk masyarakat seputar anemia melalui pemeriksaan kesehatan, konsultasi nutrisi dan anemia, pemeriksaan anemia dengan test Hb darah, dan juga seminar di Puskesmas dan Posyandu,” paparnya.

Mobil Sehat Sangobion, kata Yuliana, PT Merck akan mendatangi kota-kota atau daerah-daerah sasaran program tersebut, selain masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan menceritakan pengalaman hidup sehat semangat tanpa anemia.

Direktur Consumer Health Care Merck Nils Moen menambahkan, PT Merck Tbk melalui produk Sangobion telah melakukan berbagai upaya untuk memerangi anemia sejak 1975. “Dengan program Sangobion Gerakan Anti 5L, kami ingin meningkatkan usaha kami dalam mengedukasi
masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, Sarah Sechan yang didaulat menjadi Duta Anti-Anemia,  mengaku terpanggil untuk membantu masyarakat Indonesia dalam memberikan informasi bagaimana mengantisipasi 5L. Menurut presenter cantik ini, seorang ibu dengan aktivitas banyak berpotensi terkena anemia.

“Sebagai Duta Anti-Anemia, saya ingin mengajak masyarakat agar menyadari pentingnya zat besi terutama bagi anak-anak, " ujarnya di sela acara peluncuran Sangobion Gerakan Anti-5L di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Mantan Video Jockey  MTV itu menambahkan, Gerakan Anti-5L ini disosialisasikan lebih luas kepada masyarakat dengan meggunakan Mobil Sehat Sangobion yang akan road show di 13 kota di Indonesia. Sarah juga memandang serius penyakit anemia ini, karena bahanya fatal jika dialami anak pada masa emas pertumbuhan.

“Anemia akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak dan tidak dapat diperbaiki lagi jika terjadi kerusakan,” kata bintang film “Antara Aku, Kau dan Mak Erot” ini seraya mengimbau kaum ibu agar memerhatikan penyakit yang satu ini.

Sarah berharap, dengan Gerakan Anti-5L  masyarakat dapat  mengetahui  informasi seputar masalah anemia dan dampaknya. “Jangan sampai masyarakat kecolongan kalau anaknya kekurangan zat besi atau terkena anemia," pesan istri dari Emir Hakim ini.

Jadi anemia jangan dianggap enteng. Yuk, sama-sama kita berantas anemia dengan Gerakan Anti-5L sehingga masa depan anak-anak Indonesia cemerlang.(ram)

Sumber: okezone.com

 


blog comments powered by Disqus
 
Email Print
Banner

Banner

Banner
Follow Us on
Share |